Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

13 May 2010

Salah Saya


Pertama, salah saya karena saya yang mau meladeni kamu. walaupun kamu bilang tidak ada reaksi bila tidak ada aksi. Tapi saya memilih bereaksi untuk meladeni, bukan diam. Jadi, ini salah saya. (0-1)

Kedua, salah saya yang tidak benar-benar menjelaskan kalau saya sudah memiliki pasangan, walaupun kamu bilang salah kamu yang tidak benar-benar mendengarkan penjelasan-secara-tidak-langsung saya. Tapi seharusnya saya bisa memilih untuk benar-benar menjelaskan, bukan menjelaskan secara-tidak-langsung. Jadi, lagi-lagi salah saya. (0-2)

Ketiga, salah saya karena dari awal kamu menghendaki untuk perlahan. Tapi saya beraksi dengan mengajak cepat, dan kamu terpancing. Ini tidak perlu diperdebatkan, salah saya. (0-3)

Keempat, salah saya yang tidak mempermasalahkan kepergian kamu nanti. Saya terlalu percaya bila kita jalan bersama, jarak tidak akan berpengaruh apa-apa. Karena setau saya, Matahari yang kamu lihat nanti, masih sama dengan Matahari yang saya lihat. Jadi bukan masalah. Tapi salah saya yang tidak bisa mengajak kamu untuk memiliki pikiran yang sama. Lihat, salah saya lagi. (0-4)

Kelima, salah saya karena dipikiran saya cinta ini belum selesai. Dan kamu terlihat-walaupun-secara-perlahan menjelaskan bila ini sudah selesai. Iya, memang salah saya. (0-5)

Sudah sampai diangka 5 saya berbuat salah kepada kamu. Dan ini aneh. Kita seakan mengakhiri sesuatu yang bahkan belum kita mulai.

05 August 2009

#1 Chendrawati : Cinta Terakhir Yang Pertama


Monumen Nasional, 12.06 PM, 12 Juli 2009

“Kosong kan ?”

Aku mengangguk tanpa bicara. Kemudian dia duduk disampingku, lalu aku biarkan laki-laki itu mengambil satu batang rokok Djarum Super dari bungkus yang digenggam tangan kirinya dan mulai menyulutnya.

Gak kegerahan apa Mas ? jam dua belas siang, pake kemeja warna hitam, duduk didepan pelataran Monas yang jelas gak ada pohonnya, ngerokok pula ?

“Loe tau gak kenapa gwe ke Monas ?”

Kali ini aku menggeleng.

Mana gwe tauk loe mau ngapain ke Monas, gwe aja bingung kenapa gwe bisa nyampe Monas sekarang ini.

“Gwe lagi ngejar cinta terakhir gwe !”

Aku mulai tertarik dengan arah pembicarannya karena mungkin aku sekarang berada di Monas karena cinta juga, walaupun sedang bingung sendiri untuk mengakuinya. Aku jadi lebih memperhatikan laki-laki itu, menunggu dia selesai menarik asap rokok kedalam rongga paru-parunya lalu mengembuskan asap putih ke udara.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik.

Loh, kok gak dilanjutin ?

“Terus Mas ?”, kataku tidak sabar.

“Ahh, panjang ceritanya. Bisa dibuat novel kalo ditulis !”

“Ya udah, buruan ditulis, nanti gwe beli deh Novel loe !”, aku tertawa mendengar kalimatku sendiri.

“By the way, loe pernah ngerasain yang namanya cinta terakhir gak ?”

Hello, umur gwe baru 20 tahun, cinta terakhir ? masih jauh bener kayaknya.

“Enggak lah, tapi cinta pertama, pernah !”, jawabku sambil tersenyum sambil mengeraskan genggaman tangan kiriku yang dari tadi memegang kertas lusuh.

“Oh ya ? panjang gak ceritanya ?”

“Enggak, pendek banget malah.”

“Ceritain donk, sekalian gwe nungguin cinta terakhir gwe !”

Aku diam, mencoba mengingat kejadian belasan tahun lalu, saat aku mengenal rasa suka, kagum, dan tentu saja, cinta untuk pertama kalinya.

***

Namanya Chendrawati, sudah, itu saja. Tidak ada embel-embel Raden Roro atau Wulansari didepan atau diakhir namanya. Setiap datang ke Sekolah, rambutnya selalu dikuncir satu, selalu membawa kotak makan berwarna hijau, selalu mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan selalu memakai kalung dengan bandul berbentuk bintang berwarna hijau yang terbuat dari plastik.

Sebenarnya aku lupa bagaimana aku berkenalan dengannya, yang pasti kami sering bermain bersama saat jam istirahat berbunyi. Dan hari itu kami berdua tidak seperti anak-anak lain yang berebutan main ayunan, jungkat-jungkit, ataupun mengantri didepan tangga perosotan. Kami bermain didepan Kantor Guru, disana ada kolam yang berisi Kura-kura.

“Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi Guru SD !”

Aku bingung dengan pernyataan Chendrawati, sebelum jam istirahat tadi, Guru kami memang menanyakan cita-cita kami. Aku dengan semangat menjawab ingin jadi Dokter atau Pilot tadi, sedangkan saat Chendrawati ditanya, dia hanya menggeleng, katanya dia belum memutuskan untuk menjadi apa saat besar nanti.

“Kenapa SD ? kata Kakakku, SD itu gak enak, gak ada perosotan sama ayunannya, terus Guru nya galak !”

“Kalau sudah besar kan kita gak main perosotan sama ayunan lagi, dan aku mau menjadi Guru yang baik !”, kata Chendrawati sambil memandangku.

“Kalo murid nya nakal gimana ?”

“Ya aku hukum !”

“Tuh kan, kamu belum jadi Guru SD aja udah galak !”

Chendrawati tertawa mendengarkan perkataanku, wah, dia benar-benar cantik bila tertawa lepas seperti itu. Aku tidak salah jatuh cinta sepertinya.

“Terus kenapa harus guru SD ?”

Chendrawati diam, dia berpikir dan aku menunggunya.

TETTT!

“Eh, udah bel, kita harus masuk kelas !”

Aku mengangguk, lalu kami berlari menuju kelas kami. Pelajaran selanjutnya adalah menggambar apa yang tadi dicita-citakan, aku memang sudah tidak sabar untuk menggambar Rumah Sakit atau Pesawat. Aku sempat memikirkan apa yang akan digambar oleh Chendrawati, tapi sudahlah, nanti saja aku lihat hasil gambarnya.

***

“Terus ?”

“Gak ada terusannya !”

“LOH ? Kok gak ada ?”, laki-laki itu jadi penasaran, aku hanya tertawa.

“Besoknya Chendrawati gak masuk, katanya dia pindah ke Irian Jaya karena Ayahnya Dinas disana, dan saat itu gwe baru sadar kalo nama dia mirip sama nama burung terindah didunia !”

“Cendrawasih !”

Aku mengangguk, lalu mengambil sebungkus Sampoerna Mild dari kantong celana jeansku, menarik satu batang dan menyulutnya. Sempat berpikir, sekarang apa bedanya aku dengan laki-laki yang duduk disebelahku ? jam dua belas siang, di pelataran Monas, pakai kemeja, ngerokok pula, untung kemejaku warna putih.

“Terus sekarang loe ngapain di Monas sendirian ?”

“Gara-gara ini !”, aku menyodorkan kertas berukuran A4 yang daritadi aku genggam kepada laki-laki itu, dan dia membukannya.

“Monas, seorang guru, murid-murid dengan pakaian SD, dan bis ?”

“Iya, itu gambar Chendrawati sehari sebelum dia pindah ke Irian Jaya, kemaren gwe lagi ngobrak-ngabrik barang di gudang rumah, eh, ketemu kertas gambar itu !”, aku menghembuskan asap rokok sambil ikut memperhatikan gambar yang sedang direntangkan laki-laki itu. “Dan gwe langsung inget, saat gwe tau kalo Chendrawati pindah, gwe nangis-nangis ke nyokap gwe untuk mintain gambarnya Chendrawati ke Guru TK gwe !”

Aku menerawang jauh ke hamparan langit, terik sekali siang ini, untung angin bersemilir membuat tubuhku tidak merasa kepanasan seperti semestinya.

“Eh, liat tanggalnya, ada yang aneh, masa tanggalnya 30 Februari 1992 ?”

“Hahahaha, Chendrawati memang aneh. Dia pernah cerita kalo dia percaya kalau Februari semestinya ada 30 hari di tahun kabisat, sedangkan ditahun biasa, hanya 29 hari !”

“Gwe baru denger pendapat itu !”

“Ya elah, dipikirin amat. Itu tanggalan yang dibuat sama anak TK !”

Laki-laki itu menutup gambar Chendrawati dan mengembalikan kertas itu kepadaku. “Jadi loe mau nungguin dia di Monas setiap hari ?”

“Udah gila apa ? kurang kerjaan amat, ya enggak lah. Tapi lima tahun dari sekarang, setiap anak SD sedang berada disaat-saat masa study tour, mungkin gwe akan main-main ke Monas. Siapa tau gambar yang ada dikertas ini jadi kenyataan, dia jadi Guru SD dan ngebawa murid-muridnya ke Monas !”

Drrt.. Drrt.. Drrt..

“Eh, sorry, handphone gwe !”, kata laki-laki itu sambil merogoh saku jeansnya, mencari-cari benda yang bergetar.

“Halo ? iya Sob, kenapa ? gwe udah di pelatarannya Monas tinggal nunggu dia di lift doank kok. oh, oke oke, sip, gwe udah dapet seragam penjaga lift nya !”

Laki-laki itu menutup sambungan teleponnya, “Eh, sorry, gwe ada urusan didalem lift Monas, thanks buat ngobrol-ngobrolnya !”

“Yoi Men, semangat buat cinta terakhirnya !”

“Kok loe tauk nama gwe ?”, laki-laki itu memandangku dengan rasa penasaran, dan aku jadi bingung.

“Hah ? nama loe Men ? Mamen ?”

“Hahahahaha, nevermind, thanks Jek, Ini cinta terakhir yang pertama kok, kalo nemu yang lebih oke, ada cinta terakhir season dua. Semangat juga buat cinta pertama loe yang mudah-mudahan jadi terakhir !”

Aku hanya tertawa mendengar perkataan laki-laki itu, dasar aneh.

By the way, kok dia tau nama gwe ? ahh, kebetulan aja dia manggil gwe Jek, karena gwe manggil dia Men. Tapi seru juga tuh kalo ada yang namanya Sob dan Bro juga. Bikin genk aja sekalian.

Sepeninggal laki-laki itu aku kembali membuka gambar Chendrawati dan memperhatikan lagi setiap detail yang ada.

Tanggal ini memang aneh, nanti cek di Google atau Wikipedia deh.

***

Jatinangor, 02.49 AM, 28 Juli 2009

PS : Cerpen ini dibuat untuk memenuhi tantangan (baca : pemberian kado) yang diminta oleh orang yang hari ini berumur 30 tahun dengan meminjam salah satu tokoh rekaannya. LOL

HAPPY BIRTHDAY!

13 April 2009

Memulai Lagi

Iya, jadi gwe udah memutuskan untuk memulai lagi membuat Cerpen, sebenernya Cerpen yang udah lamaaaaa banget ada di otak gwe dan sampe sekarang belum terealisasikan. Karena gwe selalu mempunyai alasan konyol : "ceritanya udah tamat di pikiran gwe !", aneh emang, tapi gwe mikir untuk apa ditulis kalo gwe udah tauk endingnya ? hahahahahaha. Tapi sekarang gwe mau coba menuliskan Cerpen itu lagi, Cerpen yang bahkan menurut gwe (terserah sih mau dibilang subjektif, xp) bagus banget.

Rencananya gwe mau bikin kumpulan Cerpen (karena gwe selalu gak sanggup bikin sebuah Novel) aja, dan sekarang gwe punya sumber inspirasi baru. jadinya, pasti didukung deh. hahahahaha. wish me luck guys.

23 January 2009

tamat

don't make someone your priority, when they only make you an option.

JEGERRR. gwe kesamber geledek, hahahaha. setelah sekian lama gwe ngejalin hubungan dengan seseorang yang gwe juga gak ngerti nama hubungannya apa, selesai 2 hari yang lalu. kita enggak pacaran, karena memang gak ada adegan "kamu mau jadi pacar aku gak ?" dan dia menjawab "iya, aku mau !", tidak, enggak ada sama sekali. we're single, but love each other. lagi pula itu intinya, saling sayang, bukan masalah keterikatan.

sebenernya gwe mau pacaran sama dia, supaya kalo lagi jalan berdua dan ketemu temen dan kebetulan temen gwe nanya "siapa tuh Vin ?", gwe bakalan bisa jawab "pacar gwe, kenalin dulu donk !" but hey, siapa gwe ?, dia bukan pacar gwe, di cuma, cuma apa yah ? gwe sendiri juga bingung. TTM-an ?, HTS-an ?, enggak, bukan itu juga. karena kita udah sama-sama janji untuk tidak 'bebas', maksudnya enggak menjalin hubungan dengan orang lain. tapi masalahnya, dia yang gak mau, dia masih trauma sama mantan pacarnya yang terdahulu. dan oke, gwe bisa terima. selama perjanjian untuk tidak 'melihat' orang lain terpenuhi.

dan kehidupan kami pun berjalan sangat baik, terlalu baik. karena kita saling menghargai satu sama lain, kalau yang satu sedang egois, yang satu nya akan mengalah, seperti itu terus. tidak pernah ada perkelahian kalimat yang berdampak retaknya hubungan kami. semua berjalan lancar, sampai masalah itu datang, masalah yang hadir karena didasari oleh kejujuran. lagipula temen gwe yang kebetulan temen dia juga pernah bilang. "masalah loe berdua adalah gak ada masalah, kalian statis !"

6 bulan setelah kami bersama, tiba-tiba dia melakukan pengakuan dosa. selama berhubungan sama gwe, dia secara intens masih berhubungan dengan seseorang melalui SMS, dan begonya, gwe tauk orang itu. orang yang sering gwe becandain sama dia karena terlalu sering SMS dia. dia bilang, orang itu suka sama dia, tapi dia nya enggak. what the fuck, bahkan SMS gwe mungkin lebih banyak dari orang itu, dan dia ngebalesin SMS-nya. menurut logika gwe yang kayaknya masih bener, jelas dia juga punya perasaan, mau kecil, mau gede. tetep aja perasaan.

tapi gwe bertahan, mencoba sabar karena gwe terlalu sayang dia. terlalu sayang. lagipula dia minta maaf ke gwe, jadi apa salahnya untuk memaafkan. tapi ada yang janggal. yang namanya minta maaf itu, bener2 minta maaf dan gak akan mengulangi kesalahan yang sama. dan dia kayaknya gak ngerti apa arti dari minta maaf, karena dia masih aja SMS-an sama orang itu, bahkan di depan gwe. kayak gak ada dosa, nganggep gwe patung, atau kucing lewat, gak ngerti deh gwe jalan pikirannya gimana.

mungkin yang ngebaca tulisan ini bakalan nyalahin gwe karena gwe emang bukan siapa2nya dia, gwe bukan cowoknya. tapi kembali lagi gwe ingatkan, kita sama2 janji untuk bla bla bla bla bla, dan yang mendasari suatu hubungan adalah kepercayaan. jadi gwe percaya sama janji2 dia, dan dia juga percaya sama janji2 gwe. harusnya gwe sama dia endingnya bahagia. tapi enggak, karena 28 hari setelah pengakuan itu, kita sama2 udah capek. dia capek dicurigain (ya iyalah, handphone nya bunyi setiap 5 menit) dan gwe juga capek untuk nyurigain. akhirnya 21 Januari 2009 resmi bubaran, padahal 2 hari lagi menuju 7 bulanan.

dan hikmah dari ini semua adalah, GWE BISA NYANYI LAGU JANUARInya GLENN FREDLY DENGAN SEPENUH HATI.