
06 October 2009
Get It Now

28 August 2009
Semester 3, MULAI!

27 August 2009
HERMES!

05 August 2009
#1 Chendrawati : Cinta Terakhir Yang Pertama

Monumen Nasional, 12.06 PM, 12 Juli 2009
“Kosong kan ?”
Aku mengangguk tanpa bicara. Kemudian dia duduk disampingku, lalu aku biarkan laki-laki itu mengambil satu batang rokok Djarum Super dari bungkus yang digenggam tangan kirinya dan mulai menyulutnya.
Gak kegerahan apa Mas ? jam dua belas siang, pake kemeja warna hitam, duduk didepan pelataran Monas yang jelas gak ada pohonnya, ngerokok pula ?
“Loe tau gak kenapa gwe ke Monas ?”
Kali ini aku menggeleng.
Mana gwe tauk loe mau ngapain ke Monas, gwe aja bingung kenapa gwe bisa nyampe Monas sekarang ini.
“Gwe lagi ngejar cinta terakhir gwe !”
Aku mulai tertarik dengan arah pembicarannya karena mungkin aku sekarang berada di Monas karena cinta juga, walaupun sedang bingung sendiri untuk mengakuinya. Aku jadi lebih memperhatikan laki-laki itu, menunggu dia selesai menarik asap rokok kedalam rongga paru-parunya lalu mengembuskan asap putih ke udara.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik.
Loh, kok gak dilanjutin ?
“Terus Mas ?”, kataku tidak sabar.
“Ahh, panjang ceritanya. Bisa dibuat novel kalo ditulis !”
“Ya udah, buruan ditulis, nanti gwe beli deh Novel loe !”, aku tertawa mendengar kalimatku sendiri.
“By the way, loe pernah ngerasain yang namanya cinta terakhir gak ?”
Hello, umur gwe baru 20 tahun, cinta terakhir ? masih jauh bener kayaknya.
“Enggak lah, tapi cinta pertama, pernah !”, jawabku sambil tersenyum sambil mengeraskan genggaman tangan kiriku yang dari tadi memegang kertas lusuh.
“Oh ya ? panjang gak ceritanya ?”
“Enggak, pendek banget malah.”
“Ceritain donk, sekalian gwe nungguin cinta terakhir gwe !”
Aku diam, mencoba mengingat kejadian belasan tahun lalu, saat aku mengenal rasa suka, kagum, dan tentu saja, cinta untuk pertama kalinya.
***
Namanya Chendrawati, sudah, itu saja. Tidak ada embel-embel Raden Roro atau Wulansari didepan atau diakhir namanya. Setiap datang ke Sekolah, rambutnya selalu dikuncir satu, selalu membawa kotak makan berwarna hijau, selalu mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan selalu memakai kalung dengan bandul berbentuk bintang berwarna hijau yang terbuat dari plastik.
Sebenarnya aku lupa bagaimana aku berkenalan dengannya, yang pasti kami sering bermain bersama saat jam istirahat berbunyi. Dan hari itu kami berdua tidak seperti anak-anak lain yang berebutan main ayunan, jungkat-jungkit, ataupun mengantri didepan tangga perosotan. Kami bermain didepan Kantor Guru, disana ada kolam yang berisi Kura-kura.
“Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi Guru SD !”
Aku bingung dengan pernyataan Chendrawati, sebelum jam istirahat tadi, Guru kami memang menanyakan cita-cita kami. Aku dengan semangat menjawab ingin jadi Dokter atau Pilot tadi, sedangkan saat Chendrawati ditanya, dia hanya menggeleng, katanya dia belum memutuskan untuk menjadi apa saat besar nanti.
“Kenapa SD ? kata Kakakku, SD itu gak enak, gak ada perosotan sama ayunannya, terus Guru nya galak !”
“Kalau sudah besar kan kita gak main perosotan sama ayunan lagi, dan aku mau menjadi Guru yang baik !”, kata Chendrawati sambil memandangku.
“Kalo murid nya nakal gimana ?”
“Ya aku hukum !”
“Tuh kan, kamu belum jadi Guru SD aja udah galak !”
Chendrawati tertawa mendengarkan perkataanku, wah, dia benar-benar cantik bila tertawa lepas seperti itu. Aku tidak salah jatuh cinta sepertinya.
“Terus kenapa harus guru SD ?”
Chendrawati diam, dia berpikir dan aku menunggunya.
TETTT!
“Eh, udah bel, kita harus masuk kelas !”
Aku mengangguk, lalu kami berlari menuju kelas kami. Pelajaran selanjutnya adalah menggambar apa yang tadi dicita-citakan, aku memang sudah tidak sabar untuk menggambar Rumah Sakit atau Pesawat. Aku sempat memikirkan apa yang akan digambar oleh Chendrawati, tapi sudahlah, nanti saja aku lihat hasil gambarnya.
***
“Terus ?”
“Gak ada terusannya !”
“LOH ? Kok gak ada ?”, laki-laki itu jadi penasaran, aku hanya tertawa.
“Besoknya Chendrawati gak masuk, katanya dia pindah ke Irian Jaya karena Ayahnya Dinas disana, dan saat itu gwe baru sadar kalo nama dia mirip sama nama burung terindah didunia !”
“Cendrawasih !”
Aku mengangguk, lalu mengambil sebungkus Sampoerna Mild dari kantong celana jeansku, menarik satu batang dan menyulutnya. Sempat berpikir, sekarang apa bedanya aku dengan laki-laki yang duduk disebelahku ? jam dua belas siang, di pelataran Monas, pakai kemeja, ngerokok pula, untung kemejaku warna putih.
“Terus sekarang loe ngapain di Monas sendirian ?”
“Gara-gara ini !”, aku menyodorkan kertas berukuran A4 yang daritadi aku genggam kepada laki-laki itu, dan dia membukannya.
“Monas, seorang guru, murid-murid dengan pakaian SD, dan bis ?”
“Iya, itu gambar Chendrawati sehari sebelum dia pindah ke Irian Jaya, kemaren gwe lagi ngobrak-ngabrik barang di gudang rumah, eh, ketemu kertas gambar itu !”, aku menghembuskan asap rokok sambil ikut memperhatikan gambar yang sedang direntangkan laki-laki itu. “Dan gwe langsung inget, saat gwe tau kalo Chendrawati pindah, gwe nangis-nangis ke nyokap gwe untuk mintain gambarnya Chendrawati ke Guru TK gwe !”
Aku menerawang jauh ke hamparan langit, terik sekali siang ini, untung angin bersemilir membuat tubuhku tidak merasa kepanasan seperti semestinya.
“Eh, liat tanggalnya, ada yang aneh, masa tanggalnya 30 Februari 1992 ?”
“Hahahaha, Chendrawati memang aneh. Dia pernah cerita kalo dia percaya kalau Februari semestinya ada 30 hari di tahun kabisat, sedangkan ditahun biasa, hanya 29 hari !”
“Gwe baru denger pendapat itu !”
“Ya elah, dipikirin amat. Itu tanggalan yang dibuat sama anak TK !”
Laki-laki itu menutup gambar Chendrawati dan mengembalikan kertas itu kepadaku. “Jadi loe mau nungguin dia di Monas setiap hari ?”
“Udah gila apa ? kurang kerjaan amat, ya enggak lah. Tapi lima tahun dari sekarang, setiap anak SD sedang berada disaat-saat masa study tour, mungkin gwe akan main-main ke Monas. Siapa tau gambar yang ada dikertas ini jadi kenyataan, dia jadi Guru SD dan ngebawa murid-muridnya ke Monas !”
Drrt.. Drrt.. Drrt..
“Eh, sorry, handphone gwe !”, kata laki-laki itu sambil merogoh saku jeansnya, mencari-cari benda yang bergetar.
“Halo ? iya Sob, kenapa ? gwe udah di pelatarannya Monas tinggal nunggu dia di lift doank kok. oh, oke oke, sip, gwe udah dapet seragam penjaga lift nya !”
Laki-laki itu menutup sambungan teleponnya, “Eh, sorry, gwe ada urusan didalem lift Monas, thanks buat ngobrol-ngobrolnya !”
“Yoi Men, semangat buat cinta terakhirnya !”
“Kok loe tauk nama gwe ?”, laki-laki itu memandangku dengan rasa penasaran, dan aku jadi bingung.
“Hah ? nama loe Men ? Mamen ?”
“Hahahahaha, nevermind, thanks Jek, Ini cinta terakhir yang pertama kok, kalo nemu yang lebih oke, ada cinta terakhir season dua. Semangat juga buat cinta pertama loe yang mudah-mudahan jadi terakhir !”
Aku hanya tertawa mendengar perkataan laki-laki itu, dasar aneh.
By the way, kok dia tau nama gwe ? ahh, kebetulan aja dia manggil gwe Jek, karena gwe manggil dia Men. Tapi seru juga tuh kalo ada yang namanya Sob dan Bro juga. Bikin genk aja sekalian.
Sepeninggal laki-laki itu aku kembali membuka gambar Chendrawati dan memperhatikan lagi setiap detail yang ada.
Tanggal ini memang aneh, nanti cek di Google atau Wikipedia deh.
***
Jatinangor, 02.49 AM, 28 Juli 2009
PS : Cerpen ini dibuat untuk memenuhi tantangan (baca : pemberian kado) yang diminta oleh orang yang hari ini berumur 30 tahun dengan meminjam salah satu tokoh rekaannya. LOL
HAPPY BIRTHDAY!
13 May 2009
Kegiatan Baru
Gwe lagi punya kegiatan baru nih. Nulis Sinopsis, gak tauk buat apa tapi ternyata nulis sinopsis itu lebih seru dibandingin bikin Cerpen -apalagi Novel, xp- dan Prosa. Beberapa hari yang lalu sebenernya ada temen gwe yang nawarin untuk ngirim beberapa Sinopsis untuk diangkat ke Film Televisi di Trans TV, tapi gak tauk deh kelanjutannya gimana karena gwe sekarang buat-buat aja, hahahahaha. Kemaren gwe udah ngepublish beberapa judul yang mau gwe tulis, berharap minggu ini selesai, tapi ternyata setelah gwe posting dan mencoba serius bikin Sinopsis itu langsung selesai tiga-tiganya dihari yang sama. x)
Terus kemaren juga -saat gwe chat sama temen gwe yang penulis juga- dia ngingetin gwe untuk ikut Short Story Competition yang diadain sama LA-Lights, dan WOW, untung dia ngingetin gwe karena sebenernya gwe udah punya rencana untuk ikut itu bulan April lalu waktu iklannya gwe liat di Koran Kompas. Batas pengumpulan terakhirnya tanggal 1 Juni 2009, dan kayaknya gwe akan ngirimin karya gwe yang 'HARI PRABU' kesana dengan edit sana-sini sehingga menjadi sebuah Cerita Pendek, bukan Sinopsis lagi. Kalo menang, maka cerita gwe ini akan dijadiin Short Movie dan gwe bakalan bikin Skenario bareng Salman Aristo dan Titien Wattimena. OKE BANGET!
Dan rencananya 'SAAT TARI MENARI' lah yang mau gwe kasihin ke temen gwe untuk diliat oleh Produser, kalo lolos berarti kemungkinan dijadiin Film Televisis di Trans bakalan terlaksa, tapi balik lagi, ini masih rencana. x)
Sinopsis terakhir, 'RAHASIA RASYA' sebenernya yang paling oke dibandingin ketiga Sinopsis yang gwe buat. Tapi kan menggunakan semboyan 'save the best for last' gwe akan membuat Rahasia Rasya lebih mantep dan layak untuk dibaca sehingga ada orang yang tertarik untuk ngegarap jadi sebuah Film -apapun, Film Televesi kek, Film Pendek kek, atau Film Layar Lebar (amien, xp) kek- yang oke.
wish me luck guys.
12 May 2009
Sinopsis
terlalu banyak ide malah ngebuat gwe kesumpekkan, jadi gwe tulis aja deh yang mau gwe tulis :
1. Hari Prabu
2. Saat Tari Menari
3. Rahasia Rasya
tiga ini yang menjadi prioritas, huah, harus selesai minggu ini.
01 May 2009
Rumah Kakek
setiap hari sepulang sekolah, aku bermain-main di taman depan rumah kakek, dan biasanya aku mengajak adikku yang masih berumur tiga untuk ikut bermain bersamaku. bila tingkat kenakalan kami sudah tinggi, biasanya kami akan memanjat pohon jambu yang tingginya bukan main. dan saat itulah kakek keluar dari rumah membawa sapu lidi, menyuruh kami turun sambil berteriak. nenek dan ibu sudah biasa mendengar kakek meneriaki aku maupun adikku, memang seingatku, aku bukanlah anak yang baik saat berumur segitu.
saat sore biasanya kakek akan menyapu halaman, karena halaman rumah kakek memang luas dan ditanami banyak tumbuh-tumbuhan. dia mengumpulkan daun dan ranting yang berjatuhan, lalu membakarnya saat malam. aku dan adikku menamakan 'permainan bakar-bakaran' bila kakek mengajak kami menonton pembakaran daun dan ranting. kami bertiga tertawa bersama malam itu, kakek memang aneh. tadi siang dia siap memukul kami dengan sapu lidi, tapi di malam hari dia penuh kasih sayang menyuruh kami untuk tidak terlalu dekat dengan api.
kenakalan lain yang paling aku ingat adalah mencoret-coret dinding. biasanya sepulang sekolah, saat kakek sedang tidur siang. aku dan adikku akan menggambar gunung, ikan, sawah, matahari, kupu-kupu, bola, dan lain-lain ditembok ruang tamu. dan saat kakek terbangun, melihat hasil karya aku dan adikku, dia marah, dan memukul kami dengan penggebuk kasur, biasanya aku dan adikku akan lari-lari sambil menangis mencari nenek atau ibu untuk berlindung. dan saat hari sudah sore, kakek membelikan kami es krim walls yang lewat didepan rumah. aku dan adikku tidak takut lagi dengan kakek, kami bertiga makan es krim di teras rumah. setelah es krim kakek habis, dia ke taman dan mulai menyapu halaman untuk persiapan 'permainan bakar-bakaran' nanti malam.
kakek juga pernah mengunci aku dan adikku dikamar mandi, lalu dia mematikan lampunya. itu gara-gara kami menyumbat saluran air dengan baju kami dan mulai menghidupkan keran sampai penuh lalu air didalam bak tumpah. aku dan adikku menamakan ini sebagai 'permainan banjir-banjiran', dan kakek marah karena air bukan saja membanjari kamar mandi, tapi kedapur dan ruangan yang lain. makanya dia menginginkan kami untuk menyelesaikan mandi, lalu pergi mengaji.
waktu itu aku sudah berumur tujuh atau delapan. aku sudah tidak mencoret dinding ruang tamu rumah kakek lagi, memanjat pohon jambu, atau menyumbat saluran air. lagipula aku sudah tidak tinggal disana. tapi rumahku hanya beberapa blok dari rumah kakek, dan setiap habis mengaji di TPA aku akan bermain dirumah kakek. kakek tetap suka mengadakan 'permainan bakar-bakaran', kali ini kakek mengizinkan aku yang menyalakan korek api nya, meskipun dari dulu aku memintanya untuk mengizinkan menyiram daun dan ranting dengan minyak tanah. tapi bukan masalah, setidaknya aku yang memegang korek api. adikku saat itu benar-benar cemburu, tapi kakek bilang, dia akan dapat giliran menyalakan api nanti.
hari Sabtu, aku dan adikku suka menginap dirumah kakek. biasanya kakek selalu mengadakan kontes 'siapa yang bangun paling pagi' kepada kami bila kami menginap disana, hadiahnya adalah roti coklat yang selalu lewat didepan rumah kakek. aku hampir tidak pernah menang, adikku selalu lebih dulu bangun karena dia (selalu) mengompol di kasur dan terbangun tepat dipukul enam. aku harus puas melihat dia memakan roti coklat saat menonton doraemon.
kakek menghadiahi kami berdua sepeda. untukku adalah sepeda roda dua berwarna biru, sedangkan adikku sepeda roda dua dengan dua penyangga dibelakang berwarna merah. curang sebenarnya, karena adikku dengan mudah mengendarai sepedanya. rodanya ada empat, sedangkan aku ? aku tidak bisa mengatur keseimbanganku. tapi setiap sore setelah mengaji, kakek mengajariku dengan sabar. dia bilang kalau belum jatuh tiga kali, maka aku tidak akan pernah bisa naik sepeda. dan ternyata kakek benar, setelah jatuh untuk yang ketiga kalinya, aku bisa mengendarai sepeda roda dua. setelah itu kemana-mana aku dengan bangga menggunakan sepeda roda dua pemberian kakek.
saat umurku telah berubah menjadi sembilan. kakek mengalami sakit gula, diabetes nama ilmiahnya. atau kata adikku 'penyakit gula-gula' karena kakek kebanyakan makan gula dan permen. lalu tidak lama kemudian, kakek stroek, badannya tidak bisa digerakkan lagi. dia hanya berbaring dikamar. ayah, ibu, nenek, om, dan tante sudah menempuh berbagai cara pengobatan. tapi kata mereka kakek tidak mengalami kemajuan. akhirnya dia benar-benar hanya tidur dikamarnya, setiap dia ingin makan atau membung air, dia akan membunyikan bel yang ada ditangannya.
umurku tujuh belas tahun saat aku mengunjungi Ka'bah. aku hanya berdua ayah waktu itu, sedangkan ibu dan adikku tinggal dirumah. aku masih ingat waktu ayah membacakan do'a untuk kakek, bukan untuk kesembuhannya, tapi untuk kematiannya. kakek sudah tidak pernah bergerak sejak delapan tahun lalu, ayah menangis dan berkata akan mengikhlaskan kakek bila Dia memang mau mengambilnya, kakek sudah begitu menderita dengan penyakitnya.
hari ini aku berumur sembilan belas tahun. adikku mengirimkan pesan singkat yang berbunyi 'Kak, Kakek meninggal !' dan aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi. aku langsung menelpon adikku, dan dia sedang menangis. rumahku masih rumah yang sama, rumah yang hanya beberapa blok dari rumah kakek. adikku sedang disana bersama ayah dan ibu serta tante dan om untuk menemani nenek.
"Gwe ke rumah kakek sekarang, gwe naik Bis jam delapan !"
dan itu adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku menyebut rumah hijau itu sebagai rumah kakek. karena selama ini, aku dan adikku selalu berteriak : "Ibu, aku sama adik mau ke rumah nenek dulu yah !"
-----
PS : mengenang si Kakek, Nasrun Nazir Saman
14 September 1939 - 30 April 2009