09 November 2009
Campur
23 October 2009
Twitter & Tumblr
06 October 2009
Get It Now

28 August 2009
Semester 3, MULAI!

27 August 2009
HERMES!

05 August 2009
#1 Chendrawati : Cinta Terakhir Yang Pertama

Monumen Nasional, 12.06 PM, 12 Juli 2009
“Kosong kan ?”
Aku mengangguk tanpa bicara. Kemudian dia duduk disampingku, lalu aku biarkan laki-laki itu mengambil satu batang rokok Djarum Super dari bungkus yang digenggam tangan kirinya dan mulai menyulutnya.
Gak kegerahan apa Mas ? jam dua belas siang, pake kemeja warna hitam, duduk didepan pelataran Monas yang jelas gak ada pohonnya, ngerokok pula ?
“Loe tau gak kenapa gwe ke Monas ?”
Kali ini aku menggeleng.
Mana gwe tauk loe mau ngapain ke Monas, gwe aja bingung kenapa gwe bisa nyampe Monas sekarang ini.
“Gwe lagi ngejar cinta terakhir gwe !”
Aku mulai tertarik dengan arah pembicarannya karena mungkin aku sekarang berada di Monas karena cinta juga, walaupun sedang bingung sendiri untuk mengakuinya. Aku jadi lebih memperhatikan laki-laki itu, menunggu dia selesai menarik asap rokok kedalam rongga paru-parunya lalu mengembuskan asap putih ke udara.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik.
Loh, kok gak dilanjutin ?
“Terus Mas ?”, kataku tidak sabar.
“Ahh, panjang ceritanya. Bisa dibuat novel kalo ditulis !”
“Ya udah, buruan ditulis, nanti gwe beli deh Novel loe !”, aku tertawa mendengar kalimatku sendiri.
“By the way, loe pernah ngerasain yang namanya cinta terakhir gak ?”
Hello, umur gwe baru 20 tahun, cinta terakhir ? masih jauh bener kayaknya.
“Enggak lah, tapi cinta pertama, pernah !”, jawabku sambil tersenyum sambil mengeraskan genggaman tangan kiriku yang dari tadi memegang kertas lusuh.
“Oh ya ? panjang gak ceritanya ?”
“Enggak, pendek banget malah.”
“Ceritain donk, sekalian gwe nungguin cinta terakhir gwe !”
Aku diam, mencoba mengingat kejadian belasan tahun lalu, saat aku mengenal rasa suka, kagum, dan tentu saja, cinta untuk pertama kalinya.
***
Namanya Chendrawati, sudah, itu saja. Tidak ada embel-embel Raden Roro atau Wulansari didepan atau diakhir namanya. Setiap datang ke Sekolah, rambutnya selalu dikuncir satu, selalu membawa kotak makan berwarna hijau, selalu mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan selalu memakai kalung dengan bandul berbentuk bintang berwarna hijau yang terbuat dari plastik.
Sebenarnya aku lupa bagaimana aku berkenalan dengannya, yang pasti kami sering bermain bersama saat jam istirahat berbunyi. Dan hari itu kami berdua tidak seperti anak-anak lain yang berebutan main ayunan, jungkat-jungkit, ataupun mengantri didepan tangga perosotan. Kami bermain didepan Kantor Guru, disana ada kolam yang berisi Kura-kura.
“Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi Guru SD !”
Aku bingung dengan pernyataan Chendrawati, sebelum jam istirahat tadi, Guru kami memang menanyakan cita-cita kami. Aku dengan semangat menjawab ingin jadi Dokter atau Pilot tadi, sedangkan saat Chendrawati ditanya, dia hanya menggeleng, katanya dia belum memutuskan untuk menjadi apa saat besar nanti.
“Kenapa SD ? kata Kakakku, SD itu gak enak, gak ada perosotan sama ayunannya, terus Guru nya galak !”
“Kalau sudah besar kan kita gak main perosotan sama ayunan lagi, dan aku mau menjadi Guru yang baik !”, kata Chendrawati sambil memandangku.
“Kalo murid nya nakal gimana ?”
“Ya aku hukum !”
“Tuh kan, kamu belum jadi Guru SD aja udah galak !”
Chendrawati tertawa mendengarkan perkataanku, wah, dia benar-benar cantik bila tertawa lepas seperti itu. Aku tidak salah jatuh cinta sepertinya.
“Terus kenapa harus guru SD ?”
Chendrawati diam, dia berpikir dan aku menunggunya.
TETTT!
“Eh, udah bel, kita harus masuk kelas !”
Aku mengangguk, lalu kami berlari menuju kelas kami. Pelajaran selanjutnya adalah menggambar apa yang tadi dicita-citakan, aku memang sudah tidak sabar untuk menggambar Rumah Sakit atau Pesawat. Aku sempat memikirkan apa yang akan digambar oleh Chendrawati, tapi sudahlah, nanti saja aku lihat hasil gambarnya.
***
“Terus ?”
“Gak ada terusannya !”
“LOH ? Kok gak ada ?”, laki-laki itu jadi penasaran, aku hanya tertawa.
“Besoknya Chendrawati gak masuk, katanya dia pindah ke Irian Jaya karena Ayahnya Dinas disana, dan saat itu gwe baru sadar kalo nama dia mirip sama nama burung terindah didunia !”
“Cendrawasih !”
Aku mengangguk, lalu mengambil sebungkus Sampoerna Mild dari kantong celana jeansku, menarik satu batang dan menyulutnya. Sempat berpikir, sekarang apa bedanya aku dengan laki-laki yang duduk disebelahku ? jam dua belas siang, di pelataran Monas, pakai kemeja, ngerokok pula, untung kemejaku warna putih.
“Terus sekarang loe ngapain di Monas sendirian ?”
“Gara-gara ini !”, aku menyodorkan kertas berukuran A4 yang daritadi aku genggam kepada laki-laki itu, dan dia membukannya.
“Monas, seorang guru, murid-murid dengan pakaian SD, dan bis ?”
“Iya, itu gambar Chendrawati sehari sebelum dia pindah ke Irian Jaya, kemaren gwe lagi ngobrak-ngabrik barang di gudang rumah, eh, ketemu kertas gambar itu !”, aku menghembuskan asap rokok sambil ikut memperhatikan gambar yang sedang direntangkan laki-laki itu. “Dan gwe langsung inget, saat gwe tau kalo Chendrawati pindah, gwe nangis-nangis ke nyokap gwe untuk mintain gambarnya Chendrawati ke Guru TK gwe !”
Aku menerawang jauh ke hamparan langit, terik sekali siang ini, untung angin bersemilir membuat tubuhku tidak merasa kepanasan seperti semestinya.
“Eh, liat tanggalnya, ada yang aneh, masa tanggalnya 30 Februari 1992 ?”
“Hahahaha, Chendrawati memang aneh. Dia pernah cerita kalo dia percaya kalau Februari semestinya ada 30 hari di tahun kabisat, sedangkan ditahun biasa, hanya 29 hari !”
“Gwe baru denger pendapat itu !”
“Ya elah, dipikirin amat. Itu tanggalan yang dibuat sama anak TK !”
Laki-laki itu menutup gambar Chendrawati dan mengembalikan kertas itu kepadaku. “Jadi loe mau nungguin dia di Monas setiap hari ?”
“Udah gila apa ? kurang kerjaan amat, ya enggak lah. Tapi lima tahun dari sekarang, setiap anak SD sedang berada disaat-saat masa study tour, mungkin gwe akan main-main ke Monas. Siapa tau gambar yang ada dikertas ini jadi kenyataan, dia jadi Guru SD dan ngebawa murid-muridnya ke Monas !”
Drrt.. Drrt.. Drrt..
“Eh, sorry, handphone gwe !”, kata laki-laki itu sambil merogoh saku jeansnya, mencari-cari benda yang bergetar.
“Halo ? iya Sob, kenapa ? gwe udah di pelatarannya Monas tinggal nunggu dia di lift doank kok. oh, oke oke, sip, gwe udah dapet seragam penjaga lift nya !”
Laki-laki itu menutup sambungan teleponnya, “Eh, sorry, gwe ada urusan didalem lift Monas, thanks buat ngobrol-ngobrolnya !”
“Yoi Men, semangat buat cinta terakhirnya !”
“Kok loe tauk nama gwe ?”, laki-laki itu memandangku dengan rasa penasaran, dan aku jadi bingung.
“Hah ? nama loe Men ? Mamen ?”
“Hahahahaha, nevermind, thanks Jek, Ini cinta terakhir yang pertama kok, kalo nemu yang lebih oke, ada cinta terakhir season dua. Semangat juga buat cinta pertama loe yang mudah-mudahan jadi terakhir !”
Aku hanya tertawa mendengar perkataan laki-laki itu, dasar aneh.
By the way, kok dia tau nama gwe ? ahh, kebetulan aja dia manggil gwe Jek, karena gwe manggil dia Men. Tapi seru juga tuh kalo ada yang namanya Sob dan Bro juga. Bikin genk aja sekalian.
Sepeninggal laki-laki itu aku kembali membuka gambar Chendrawati dan memperhatikan lagi setiap detail yang ada.
Tanggal ini memang aneh, nanti cek di Google atau Wikipedia deh.
***
Jatinangor, 02.49 AM, 28 Juli 2009
PS : Cerpen ini dibuat untuk memenuhi tantangan (baca : pemberian kado) yang diminta oleh orang yang hari ini berumur 30 tahun dengan meminjam salah satu tokoh rekaannya. LOL
HAPPY BIRTHDAY!
13 May 2009
Kegiatan Baru
Gwe lagi punya kegiatan baru nih. Nulis Sinopsis, gak tauk buat apa tapi ternyata nulis sinopsis itu lebih seru dibandingin bikin Cerpen -apalagi Novel, xp- dan Prosa. Beberapa hari yang lalu sebenernya ada temen gwe yang nawarin untuk ngirim beberapa Sinopsis untuk diangkat ke Film Televisi di Trans TV, tapi gak tauk deh kelanjutannya gimana karena gwe sekarang buat-buat aja, hahahahaha. Kemaren gwe udah ngepublish beberapa judul yang mau gwe tulis, berharap minggu ini selesai, tapi ternyata setelah gwe posting dan mencoba serius bikin Sinopsis itu langsung selesai tiga-tiganya dihari yang sama. x)
Terus kemaren juga -saat gwe chat sama temen gwe yang penulis juga- dia ngingetin gwe untuk ikut Short Story Competition yang diadain sama LA-Lights, dan WOW, untung dia ngingetin gwe karena sebenernya gwe udah punya rencana untuk ikut itu bulan April lalu waktu iklannya gwe liat di Koran Kompas. Batas pengumpulan terakhirnya tanggal 1 Juni 2009, dan kayaknya gwe akan ngirimin karya gwe yang 'HARI PRABU' kesana dengan edit sana-sini sehingga menjadi sebuah Cerita Pendek, bukan Sinopsis lagi. Kalo menang, maka cerita gwe ini akan dijadiin Short Movie dan gwe bakalan bikin Skenario bareng Salman Aristo dan Titien Wattimena. OKE BANGET!
Dan rencananya 'SAAT TARI MENARI' lah yang mau gwe kasihin ke temen gwe untuk diliat oleh Produser, kalo lolos berarti kemungkinan dijadiin Film Televisis di Trans bakalan terlaksa, tapi balik lagi, ini masih rencana. x)
Sinopsis terakhir, 'RAHASIA RASYA' sebenernya yang paling oke dibandingin ketiga Sinopsis yang gwe buat. Tapi kan menggunakan semboyan 'save the best for last' gwe akan membuat Rahasia Rasya lebih mantep dan layak untuk dibaca sehingga ada orang yang tertarik untuk ngegarap jadi sebuah Film -apapun, Film Televesi kek, Film Pendek kek, atau Film Layar Lebar (amien, xp) kek- yang oke.
wish me luck guys.
