09 November 2009

Campur

Hey, gwe gak bisa tidur, dan gwe lari nya ke loe. Sorry yah udah lama banget gak dibuka-buka, gwe emang lagi sok sibuk, hahahaha. Hmm, jadi apa kabar ? Gwe lagi ngerasa baik banget sama semua kehidupan gwe (kecuali kehidupan Kuliah, LOL) karena sepertinya mimpi gwe untuk nerbitin buku semakin besar peluangnya setelah temen gwe yang kerja di penerbit Lingkar Pena nawarin 'Chendrawati's Story' untuk diterbitin. Walaupun ini masih omongan kasar dan belum terlihat jelas arah pembicaraannya, tapi gwe sangat semangat dalam mengedit dan 'mengobrak-abrik' naskah Chendrawati.

Seperti yang loe semua bisa temuin di Blog gwe ini, gwe udah nge-post beberapa episode Chendrawati, tapi akhirnya gwe putuskan untuk berhenti nge-post nya di Blog karena pembacanya tidak terdeteksi (makanya, kalo abis baca, komentar donk, LOL). Jadi, 'Chendrawati's Story' hanya di post di Facebook gwe aja, dan sekarang udah selesai masa 'tayang'-nya dengan jumlah 26 episode.

Di naskah yang nanti akan gwe serahkan ke Lingkar Pena, akan ada tambahan Prolog dan 2 episode, yah, itung-itung bonus yang udah baca 'Chendrawati's Story' di notes Facebook gwe tapi tetep mau beli buku nya (AMIEN ya ALLAH sampe bisa terbit).

Selain sedang sibuk finishing si Chendrawati, gwe dan temen gwe yang namanya Asyharul Fityan (bisa diliat disamping kanan nama nya, tinggal klik kalo mau mengunjungi Blog nya) sedang buat cerita keroyokan yang agak kontroversial, hahahaha, lucu nya dia yang heboh banget dengan cerita ini, karena sebenernya ide awalnya juga dari dia, tapi akhirnya gwe ikut terjerumus dengan imajinasi-imajinasi Djawa (nama panggilannya), sampai akhirnya, kemaren gwe dan Djawa begadang di Toni Jack's Sarinah dari jam setengah 2 pagi sampe jam 7 pagi. Dan hasilnya Bab 1 dari cerita kami selesai. Harusnya bisa langsung ngelanjutin ke Bab 2, tapi waktu igtu kami butuh riset dan di tempat kami begadang gak ada Wifi, jadilah kami berdua ngobrol2 aja sampe pagi.

Btw, ini cerita gwe campur-campur gini, hahahaha. Ya udahlah, gak apa-apa kan ? Sip, gwe cabut kalo gitu. Semoga gwe akan sering ngunjungin loe yah Secara we juga udah agak males sama Facebook kecuali permainan Poker dan Notes-notes Tag-an temen-temen gwe, hahahaha.

AZ :)

23 October 2009

Twitter & Tumblr

oke, udah lama banget gwe gak update berita apa-apa dan postingan cerita di Blog gwe ini. Penyebabnya adalah : GWE PUNYA TWITTER DAN TUMBLR, hahahaha. jadi temen-temen, kalo lagi gak punya kesibukan, main-main lah di Tumblr gwe, dan cari tauk apa yang gwe lakukan di Twitter (berasaaaa artesss, xp).

Tumblr : http//agastiazirtaf.tumblr.com/
Twitter : http//twitter.agastiazirtaf.com/

Have a nice life, guys ! :D

06 October 2009

Get It Now

SEGERA DIRILIS !
Kumpulan Cerpen Digital "The Hermes : Hermes For Charity" yang rencananya akan dibukukan juga, semua dana yang terkumpul melalui pembelian baik versi Digital maupun Buku akan disumbangkan kepada korban bencana gempa di Padang, Sumatera Barat.

Ps. untuk info pembelian dan lain-lain, hubungi : sitty.asiah@hotmail.com

02 September 2009

#11 Chendrawati : Dia Di Jakarta


Senayan City, 01.37 PM, 8 Agustus 2009

Jam Gadang (bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia adalah : Jam Besar) yang berada di Kota Bukittinggi memiliki keunikan tersendiri dibandingan jam yang lainnya, angka empat Romawi yang tertera disana bukanlah angka empat yang biasa (IV) tapi menyajarkan angka satu sebanyak empat kali (IIII).

Ahh, gini doank gampang lah, Mas Carlo bakalan nyusul jam 4, oke oke, gwe beli tiket setelah jam 4 kalo gitu.

Aku berjalan menuju arah lift, terlalu lama bila aku menggunakan ekskalator lagi pula aku juga merasa buru-buru karena takut kehabisan tiket, dan Mas Carlo pasti tidak senang bila aku tidak mendapatkan tiket di kursi E F atau G bagian tengah, tempat favorit nya karena memang sejajar dengan layar.

***

Perpustakaan Nasional, 11.30 AM, 10 Agustus 2009

“Sumpah Jek, gwe baru pertama kali ke Perpustakaan Nasional !”, Anjas sangat antusias saat mobilnya terlah terpakir di Perpustakaan Nasional, aku bermaksud untuk mengembalikan buku yang kupinjam kemarin dulu.

“Maka nya, jangan ke Mall mulu, sekali-kali ke gudang buku !”, sahutku sambil meletakkan buku dimeja pengembalian.

Aduh, si Pustakawati galak lagi nih !

“Mbak, saya mau ngebaliin buku !”

Dan masih dengan tampang tidak bersahabatnya dia mengambil buku-buku sambil melihat kartu perpustakaanku, tanpa mengucapkan terima kasih dia kembali duduk.

“Itu tuh yang ngomoelin gwe waktu itu Njas !”, aku mengadu sambil menujuk kearah Pustakawati yang tadi melayaniku ketika duduk disamping Anjas yang sudah asik dengan buku-buku yang dipilih olehnya.

“Ya elah, sama Pustawakan aja takut, mereka juga manusia Jek, loe omelin balik aja !”, jawab Anjas seadanya, masih sibuk mebuka-buka halaman.

Nih anak baca novel atau ngeliat komik sih ? Halaman dibalik-balik mulu.

Aku mengambil beberapa buku tentang Romawi lagi, sejak aku berhasil memecahkan tentang si curang Agustus dan 30 Februari aku menjadi tertarik dengan segala sesuatu tentang Romawi. Apalagi ternyata Romawi juga merupakan Sistem Pemerintahan yang menjadi salah satu Mata Kuliahku, sambil menyelam minum air jadinya.

Anjas berdiri, meletakkan buku yang –tidak mungkin dia sudah selesai membacanya melihat- tadi diambilnya ke rak semula, dan mengambil buku lagi dan duduk kemudian membalik-balikkan halamannya lagi, lalu meletakkannya lagi di rak, mengambil buku lagi, membalik-balikan halamannya lagi, berdiri ..

“HEH, loe gak bisa diem yah ?”, suaraku berada diantara mau teriak tapi dengan volume yang sangat kecil.

“Jek, gwe ngerti sekarang kenapa gwe gak pernah kesini, Mall lebih bisa nerima gwe apa ada nya !”, jawab Anjas pasrah kemudian duduk lagi ditempatnya.

“Hahahaha, bego loe, ya lagian jangan ngambil buku-buku gituan, novel-novel biasa aja yang loe ambil, disana tuh kayaknya !”, aku menunjuk ke arah rak buku yang biasa diisi oleh Novel-novel ringan yang mungkin bisa membuat Anjas diam ditempatnya karena sibuk membaca.

Aku kembali sibuk menekuni buku yang kubaca, tentang Cleopatra yang menjadi selingkuhan Julius Caesar serta pecahnya perang saudara yang disebabkan oleh Cleopatra juga.

Mungkin Changcuters bikin lagu dari kisah ini yah ? Wanita itu racun dunia bahkan sejak jaman Julius Caesar.

Aku memeperhatikan Anjas yang kembali duduk ditempatnya dengan sebuah buku, aku meliriknya, judul buku itu Franklin Naik Sepeda.

“Njas, umur loe berapa sih ? Itu bukannya buku anak-anak yah ?”, tanyaku sambil menutup buku yang sdang kubaca.

“Gwe ? 21 tahun ini, yeee, buku tuh universal mau baca buku apa aja terserah gwe, anak kecil aja udah bisa baca bokep !”, suara Anjas apalagi kalimat terakhirnya membuat beberapa pengunjung Perpustakaan Nasional memandangi kami berdua. “Aduh, gwe mau ke Mall aja rasanya, tekanan batin gwe disini !”

Aku tertawa melihat tingkah laku Anjas yang tidak nyaman dengan tempat dimana dia berada sekarang, padahal tadi saat masuk kedalam dia sudah yakin akan menyukai tempat ini.

“Ya udah, mau cabut ?”

Anjas mengangguk cepat, aku hanya tersenyum sambil bediri dan mengambil beberapa buku yang ingin aku pinjam.

“Eh, gwe juga mau minjem ini Jek, tapi pake kartu loe aja yah !”, ucap Anjas sambil terus menggenggam buku Franklin Naik Sepeda nya dan berjalan menyusulku menuju Mbak Pustakawati yang galak.

“Minjem ini aja Mas ?”

“Hmm, enggak Mbak, bentar ada satu lagi !”, jawabku sambil membalikkan badan menunggu Anjas yang sedang berjalan menuju arahku.

Anjas menyerahkan buku nya kepadaku, dan aku menyerahkan buku itu kepada Mbak Pustakawati yang ternyata namanya Bulan, setelah aku melihat name tag yang digunakannya.

Oke, namanya Bulan, jadi gwe bisa ngingetin orang lain, jangan berisik kalo dia yang lagi jaga !

Pustakawati bernama Bulan itu mencatat namaku dan nomer perpustakaan serta tanggal peminjaman disetiap belakang buku yang kupinjam dan menyisakan satu tempat untuk menulis tanggal pengembaliannya. Satu persatu dengan sangat teliti, sampai akhirnya ..

“MBAK, TUNGGU !”, Anjas teriak.

“Masya Allah, Mas, ini Perpustakaan, jangan teriak-teriak !”, Bulan dengan sangat hati-hati menjaga ritme bicaranya. Aku heran sendiri dengan kemampuannya itu, karena biasanya orang akan teriak juga saat diajak berbicara dengan nada seperti itu. Pasti udara Perpustakaan sudah benar-benar masuk kejiwanya sampai bisa memiliki kemampuan itu.

“Eh, iya, maaf Mbak, itu saya mau liat halaman belakang Franklin Naik Sepeda nya, tadi kayak ada nama temen saya !”, jawab Anjas, dan aku dibuat bingung olehnya.

“Lain kali jangan teriak-teriak yah !”, kata Bulan sambil membuka halaman terakhir yang dicover belakang buku bagian dalam terdapat daftar peminjam buku tersebut.

“YA AMPUN !”, kali ini gilaran aku yang berteriak.

“DIA DI JAKARTA JEK !”, Anjas kembali berteriak dan kami sukses menjadi pusat perhatian lagi saat itu.

“MAS, JANGAN TERIAK-TERIAK !”

***

Franklin Naik Sepeda Paulo Bourgeois dan Brenda Clark

  • Budi Setiawan .............. 000027098803 ................. 12 Maret 2009

  • Rahma Anissa .............. 000019673001 ................. 23 Mei 2009

  • Chendrawati .............. 000029072009 ................. 6 Agustus 2009

28 August 2009

Semester 3, MULAI!


Kayaknya udah lama banget gwe gak cerita tentang kehidupan pribadi, hehehehehe. Jadi pembaca -yang kurang kerjaan karena ngebaca ini, becanda-becanda, LOL- Blog, gwe sebentar lagi akan menginjakan kaki di Semester 3 untuk pertama kalinya di dalam dunia Perkuliahan (waktu di UI gak sempet Semester 3 karena keburu resign, xp) gwe. Alhamdulillah, IP Semester 2 cukup memuaskan bagi gwe walaupun kalo dibandingin anak-anak yang lain IP gwe termasuk rendah, tapi ini sangat memuaskan dibandingin IP perdana gwe saat Kuliah di Unpad yang zzzzz banget.

Kemaren, gwe baru aja ngelakuin Perwalian (semacam pengisian SIAK-NG kalo di UI tapi manual dan harus menghadap Dosen langsung), dan Semester mendatang gwe akan sibuk sama 15 SKS aja, seneng sih karena enggak terlalu padet dan gwe bisa mengosongkan 1 hari dari 5 hari jadwal Kuliah sesungguhnya. Berikut Jadwal Kuliah Semester 3 gwe :

#Dasar-Dasar Ilmu Politik (3 SKS)
Senin, 08.30-10.30 ruang C.305

#Filsafat Ilmu (3 SKS)
Senin, 13.00-15.30 ruang B.302

#Teori Komunikasi (2 SKS)
Selasa, 13.50-16.20 ruang D.301

#Pengantar Statistik (3 SKS)
Rabu, 08.30-10.30 ruang D.301

#Psikologi Sosial (2 SKS)
Kamis, 08.00-09.40 ruang D.301

#Asas-Asas Manajemen (2 SKS)
Kamis, 09.40-11.20 ruang D.301

Semester 3 akan dimulai pada hari Senin, tanggal 31 Agustus 2009, ahhh, pengen banget cepet-cepet masuk Kuliah dan memperbaiki kekurangan yang banyak gwe lakuin tahun pertama. Semoga di tahun kedua ini Perkuliahan gwe semakin baik, AMIEN AMIEN AMIEN.

27 August 2009

HERMES!


saya dan teman-teman saya sedang membuat cerita keroyokan tentang Sejarah Hermes -please, bukan merk Tas Manohara, LOL- yang bersetting di Cafe yang memilki Patung Hermes didalamnya. Kalo sedang punya waktu luang dan berkenan membaca, bisa diliat di bagian Friends dan ada Link menuju cerita keroyokan tersebut, nama Blog nya The Hermes Genk, feel free untuk baca dan komentar. x)

Nb : Untuk yang gak tahu Hermes -karena sudah terlanjur mengenalnya sebagai merk Tas-, ini ada gambar wujud salah satu Dewa Yunani tersebut. Patung Hermes bisa ditemui di Jembatan Harmoni dan Museum Fatahillah

#10 Chendrawati : Jam


Tol TB. Simatupang, 11.57 AM, 08 Agustus 2009

Aku memacu Terano hitam Mas Carlo ke arah Senayan, sekarang aku hanya sendiri, Anjas minta diturunkan diperempatan yang menguhubungkan daerah Tanjung Barat dan Pasar Minggu, dan ini membuatku harus keluar masuk Tol TB. Simatupang.

Gwe benci Anjas, ahhh, curang dia, giliran mau ketemu Mas Carlo aja gak mau nemenin.

Satu setengah jam yang lalu

“GWE GAK MAU TAUK, LOE ANTERIN TUH MOBIL SEKARANG KE PUSDIKLAT !”

“Kenapa gak make mobil Mbak Sydney aja sih Mas ? Dia gak kemana-mana kan siang ini ?”, aku benar-benar malas bila harus berurusan dengan Kakakku yang sangat tempremental ini.

“MENURUT LOE ? GWE MAU MAKE MOBIL WARNA PINK ?”

“Ya elah, make pink gak menurunkan ke macho an loe kok Mas !”, aku kembali memeloti Anjas setelah dia mengucapkan kalimat itu.

“HEH, ANAK PAK BURHAN, KALO KETEMU GWE BANTING LOE !”

Anjas sekarang diam, mungkin dia baru mengingat betapa tinggi dan besarnnya postur tubuh Mas Carlo, pemegang sabuk hitam Karate yang sudah diraihnya bahkan sewaktu SMP.

“Ya udah, gwe anterin ke Pusdiklat !”

“CEPETAN !”

Dan percekapan itu pun diputuskan oleh Mas Carlo tanpa menunggu jawaban dariku.

“GWE-GAK-MAU-IKUT, turunin gwe di Tanjung Barat, atau enggak gwe pulang naek Kereta ke Depok !”, kali ini Anjas yang teriak.

Aku hanya mengangguk lemas.

***

Pusdiklat Departemen Luar Negeri, 12.47 PM, 08 Agustus 2009

“Laen kali, bilang gwe dulu kalo mau make mobil !”, Mas Carlo tidak bisa berteriak-teriak sekarang karena kami berdua sedang berada di lobby tempat dia bekerja.

“Yah, gwe kan gak tauk kalo hari ini loe ke Kantor, gwe pikir loe libur !”, jawabku dengan nada yang lebih tinggi dari pada Mas Carlo. “Lagian ngapain sih loe hari Sabtu ke Kantor ?”

“Loe anak Jurusan Ilmu Pemerintahan tapi gak tauk hari ini ada perayaan apa Dek ?”, Mas Carlo menggelengkan kepalanya setelah mengucapkan kalimat itu.

Aku mencoba mengingat apa yang aku lewatkan hari ini, tapi selagi berpikir aku melihat jelas sebuah pigura yang berisi seorang laki-laki diantara jajaran foto-foto Mantan Menteri Luar Negeri.

Itu ? Itu kan ? ITU ALI ALATAS !

Aku berdiri seketika dan berjalan kearah foto Ali Alatas yang berada disalah satu dinding lobby Pusdiklat Deplu, gerakan mendadakku membuat Mas Carlo terkejut, dan mengikutiku.

“Kenapa sama Ali Alatas ?’, tanya Mas Carlo.

Oh Tuhan, Ayah Chendrawati pasti seorang Diplomat, dan Kakek Ali yang baru saja diceritakan oleh Bu Lena pasti Ali Alatas. Ya, sekarang gwe ngerti kenapa Chendrawati bisa jenius.

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Mas Carlo yang menatapku dengan wajah keheranan.

“Kenapa sih loe Dek ?”

Mas Carlo mungkin adalah kakakku yang paling tempremenal, tapi dia lah pilihan pertamaku bila aku ingin bercerita dan melakukan suatu hal, dari mulai Midnight bareng –dan kadang menjadi obat nyamuk karena dia tanpa sepengetahuanku mengajak kekasihnya- hingga berkelahi. Lagipula, dengan Chendrawati yang menyukai Sejarah, Geografi, dan Bahasa Inggris, Mas Carlo adalah orang yang tepat untuk berbagi masalah ini.

Akhirnya aku menceritakan tentang pencarian Chendrawati kepadanya, tidak perlu waktu yang lama karena ternyata cerita pencarianku begitu singkat, hanya dari satu clue ke clue yang lainnya.

“Gila, gak nyangka si Chendrawati sepinter itu !”

Aku hanya mengangguk, dan memperhatikan seorang bule yang berjalan kearah kami berdua. Sangat tinggi, bahkan Mas Carlo yang sudah tinggi menjulang dengan 181 centimeter nya kalah.

“Hey Carlo, can we talk about our last problem ?”, si bule menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Mas Carlo.

Mas Carlo berdiri dan melihat catatan yang diberikan bule itu kepadanya, “Btw, Peter, this is my brother, he studied dutch literatute but only one year !”, ucapnya sambil meletakkan tangannya dibahuku.

Aku langsung memelototi Mas Carlo.

“Oh, Dag, Mijn naam is Peter, hoe gaat het met U ?”, bule bernama Peter itu mengulurkan tangannya kepadaku, aku berdiri kemudian meraih tangannya.

“Jek, Het gaat goed met mij, en U ?”

“Prima !”

“#$^^$% #@^%*^%^& $^%#(* ^%^$*^ $# $@%, Jek ?”

HAH ? HAH ? HAH ? Ini bule Belanda ngomong apaan ? Kayak kumur-kumur.

“Pardon Meneer, Ik snap U niet, Ik spreek een beetje Nederlands !”, jawabku dengan wajah super tolol yang bisa kubuat.

“Hahahaha, that’s a good answer Jek !”, bule itu tertawa dengan puas dan Mas Carlo dibuat bingung dengan percakapan kami yang menggunakan Bahasa Kompeni itu. Aku juga jadi ikut tertawa saat bule itu mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Ya udah, gwe cabut deh Mas !”

“Eh, cabut kemana ?”, tanya Mas Carlo, kemudian dia berbicara untuk meminta waktu sebentar untuk berbicara kepadaku kepada Peter.

“Plaza Senayan atau Senayan City, G.I JOE udah tayang nih !”, jawabku sambil mengeluarkan handphone untuk memeriksa jadwal pemutaran film di dua Mall itu.

“EH, gwe ikut, gwe juga mau nonton itu, tapi gwe masih ada kerjaan Dek !”

“Ya udah, gwe tungguin, gwe juga mau makan siang dulu, terus paling jamuran di Toko Buku nungguin loe, loe jam berapa selesai nya ? Biar gwe bisa langsung beli tiket nya !”, ucapku sambil melihat jam yang kugunakan ditangan kanan.

“Hmm, gwe selesai saat jarum jam berhenti tepat di angka yang menjadi keanehan di jam terbesar di Indonesia, Dek !”, Mas Carlo tersenyum dan meninggalkanku berjalan dengan Peter.

Sialan, mentang-mentang gwe ceritain tentang Chendrawati, dia ikut-ikutan maen teka-teki. Tapi jam berapa saat jarum jam berhenti tepat di angka yang menjadi keanehan di jam terbesar di Indonesia ? Awas loh Mas, gwe bales nanti.