23 October 2009

Twitter & Tumblr

oke, udah lama banget gwe gak update berita apa-apa dan postingan cerita di Blog gwe ini. Penyebabnya adalah : GWE PUNYA TWITTER DAN TUMBLR, hahahaha. jadi temen-temen, kalo lagi gak punya kesibukan, main-main lah di Tumblr gwe, dan cari tauk apa yang gwe lakukan di Twitter (berasaaaa artesss, xp).

Tumblr : http//agastiazirtaf.tumblr.com/
Twitter : http//twitter.agastiazirtaf.com/

Have a nice life, guys ! :D

06 October 2009

Get It Now

SEGERA DIRILIS !
Kumpulan Cerpen Digital "The Hermes : Hermes For Charity" yang rencananya akan dibukukan juga, semua dana yang terkumpul melalui pembelian baik versi Digital maupun Buku akan disumbangkan kepada korban bencana gempa di Padang, Sumatera Barat.

Ps. untuk info pembelian dan lain-lain, hubungi : sitty.asiah@hotmail.com

02 September 2009

#11 Chendrawati : Dia Di Jakarta


Senayan City, 01.37 PM, 8 Agustus 2009

Jam Gadang (bila diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia adalah : Jam Besar) yang berada di Kota Bukittinggi memiliki keunikan tersendiri dibandingan jam yang lainnya, angka empat Romawi yang tertera disana bukanlah angka empat yang biasa (IV) tapi menyajarkan angka satu sebanyak empat kali (IIII).

Ahh, gini doank gampang lah, Mas Carlo bakalan nyusul jam 4, oke oke, gwe beli tiket setelah jam 4 kalo gitu.

Aku berjalan menuju arah lift, terlalu lama bila aku menggunakan ekskalator lagi pula aku juga merasa buru-buru karena takut kehabisan tiket, dan Mas Carlo pasti tidak senang bila aku tidak mendapatkan tiket di kursi E F atau G bagian tengah, tempat favorit nya karena memang sejajar dengan layar.

***

Perpustakaan Nasional, 11.30 AM, 10 Agustus 2009

“Sumpah Jek, gwe baru pertama kali ke Perpustakaan Nasional !”, Anjas sangat antusias saat mobilnya terlah terpakir di Perpustakaan Nasional, aku bermaksud untuk mengembalikan buku yang kupinjam kemarin dulu.

“Maka nya, jangan ke Mall mulu, sekali-kali ke gudang buku !”, sahutku sambil meletakkan buku dimeja pengembalian.

Aduh, si Pustakawati galak lagi nih !

“Mbak, saya mau ngebaliin buku !”

Dan masih dengan tampang tidak bersahabatnya dia mengambil buku-buku sambil melihat kartu perpustakaanku, tanpa mengucapkan terima kasih dia kembali duduk.

“Itu tuh yang ngomoelin gwe waktu itu Njas !”, aku mengadu sambil menujuk kearah Pustakawati yang tadi melayaniku ketika duduk disamping Anjas yang sudah asik dengan buku-buku yang dipilih olehnya.

“Ya elah, sama Pustawakan aja takut, mereka juga manusia Jek, loe omelin balik aja !”, jawab Anjas seadanya, masih sibuk mebuka-buka halaman.

Nih anak baca novel atau ngeliat komik sih ? Halaman dibalik-balik mulu.

Aku mengambil beberapa buku tentang Romawi lagi, sejak aku berhasil memecahkan tentang si curang Agustus dan 30 Februari aku menjadi tertarik dengan segala sesuatu tentang Romawi. Apalagi ternyata Romawi juga merupakan Sistem Pemerintahan yang menjadi salah satu Mata Kuliahku, sambil menyelam minum air jadinya.

Anjas berdiri, meletakkan buku yang –tidak mungkin dia sudah selesai membacanya melihat- tadi diambilnya ke rak semula, dan mengambil buku lagi dan duduk kemudian membalik-balikkan halamannya lagi, lalu meletakkannya lagi di rak, mengambil buku lagi, membalik-balikan halamannya lagi, berdiri ..

“HEH, loe gak bisa diem yah ?”, suaraku berada diantara mau teriak tapi dengan volume yang sangat kecil.

“Jek, gwe ngerti sekarang kenapa gwe gak pernah kesini, Mall lebih bisa nerima gwe apa ada nya !”, jawab Anjas pasrah kemudian duduk lagi ditempatnya.

“Hahahaha, bego loe, ya lagian jangan ngambil buku-buku gituan, novel-novel biasa aja yang loe ambil, disana tuh kayaknya !”, aku menunjuk ke arah rak buku yang biasa diisi oleh Novel-novel ringan yang mungkin bisa membuat Anjas diam ditempatnya karena sibuk membaca.

Aku kembali sibuk menekuni buku yang kubaca, tentang Cleopatra yang menjadi selingkuhan Julius Caesar serta pecahnya perang saudara yang disebabkan oleh Cleopatra juga.

Mungkin Changcuters bikin lagu dari kisah ini yah ? Wanita itu racun dunia bahkan sejak jaman Julius Caesar.

Aku memeperhatikan Anjas yang kembali duduk ditempatnya dengan sebuah buku, aku meliriknya, judul buku itu Franklin Naik Sepeda.

“Njas, umur loe berapa sih ? Itu bukannya buku anak-anak yah ?”, tanyaku sambil menutup buku yang sdang kubaca.

“Gwe ? 21 tahun ini, yeee, buku tuh universal mau baca buku apa aja terserah gwe, anak kecil aja udah bisa baca bokep !”, suara Anjas apalagi kalimat terakhirnya membuat beberapa pengunjung Perpustakaan Nasional memandangi kami berdua. “Aduh, gwe mau ke Mall aja rasanya, tekanan batin gwe disini !”

Aku tertawa melihat tingkah laku Anjas yang tidak nyaman dengan tempat dimana dia berada sekarang, padahal tadi saat masuk kedalam dia sudah yakin akan menyukai tempat ini.

“Ya udah, mau cabut ?”

Anjas mengangguk cepat, aku hanya tersenyum sambil bediri dan mengambil beberapa buku yang ingin aku pinjam.

“Eh, gwe juga mau minjem ini Jek, tapi pake kartu loe aja yah !”, ucap Anjas sambil terus menggenggam buku Franklin Naik Sepeda nya dan berjalan menyusulku menuju Mbak Pustakawati yang galak.

“Minjem ini aja Mas ?”

“Hmm, enggak Mbak, bentar ada satu lagi !”, jawabku sambil membalikkan badan menunggu Anjas yang sedang berjalan menuju arahku.

Anjas menyerahkan buku nya kepadaku, dan aku menyerahkan buku itu kepada Mbak Pustakawati yang ternyata namanya Bulan, setelah aku melihat name tag yang digunakannya.

Oke, namanya Bulan, jadi gwe bisa ngingetin orang lain, jangan berisik kalo dia yang lagi jaga !

Pustakawati bernama Bulan itu mencatat namaku dan nomer perpustakaan serta tanggal peminjaman disetiap belakang buku yang kupinjam dan menyisakan satu tempat untuk menulis tanggal pengembaliannya. Satu persatu dengan sangat teliti, sampai akhirnya ..

“MBAK, TUNGGU !”, Anjas teriak.

“Masya Allah, Mas, ini Perpustakaan, jangan teriak-teriak !”, Bulan dengan sangat hati-hati menjaga ritme bicaranya. Aku heran sendiri dengan kemampuannya itu, karena biasanya orang akan teriak juga saat diajak berbicara dengan nada seperti itu. Pasti udara Perpustakaan sudah benar-benar masuk kejiwanya sampai bisa memiliki kemampuan itu.

“Eh, iya, maaf Mbak, itu saya mau liat halaman belakang Franklin Naik Sepeda nya, tadi kayak ada nama temen saya !”, jawab Anjas, dan aku dibuat bingung olehnya.

“Lain kali jangan teriak-teriak yah !”, kata Bulan sambil membuka halaman terakhir yang dicover belakang buku bagian dalam terdapat daftar peminjam buku tersebut.

“YA AMPUN !”, kali ini gilaran aku yang berteriak.

“DIA DI JAKARTA JEK !”, Anjas kembali berteriak dan kami sukses menjadi pusat perhatian lagi saat itu.

“MAS, JANGAN TERIAK-TERIAK !”

***

Franklin Naik Sepeda Paulo Bourgeois dan Brenda Clark

  • Budi Setiawan .............. 000027098803 ................. 12 Maret 2009

  • Rahma Anissa .............. 000019673001 ................. 23 Mei 2009

  • Chendrawati .............. 000029072009 ................. 6 Agustus 2009

28 August 2009

Semester 3, MULAI!


Kayaknya udah lama banget gwe gak cerita tentang kehidupan pribadi, hehehehehe. Jadi pembaca -yang kurang kerjaan karena ngebaca ini, becanda-becanda, LOL- Blog, gwe sebentar lagi akan menginjakan kaki di Semester 3 untuk pertama kalinya di dalam dunia Perkuliahan (waktu di UI gak sempet Semester 3 karena keburu resign, xp) gwe. Alhamdulillah, IP Semester 2 cukup memuaskan bagi gwe walaupun kalo dibandingin anak-anak yang lain IP gwe termasuk rendah, tapi ini sangat memuaskan dibandingin IP perdana gwe saat Kuliah di Unpad yang zzzzz banget.

Kemaren, gwe baru aja ngelakuin Perwalian (semacam pengisian SIAK-NG kalo di UI tapi manual dan harus menghadap Dosen langsung), dan Semester mendatang gwe akan sibuk sama 15 SKS aja, seneng sih karena enggak terlalu padet dan gwe bisa mengosongkan 1 hari dari 5 hari jadwal Kuliah sesungguhnya. Berikut Jadwal Kuliah Semester 3 gwe :

#Dasar-Dasar Ilmu Politik (3 SKS)
Senin, 08.30-10.30 ruang C.305

#Filsafat Ilmu (3 SKS)
Senin, 13.00-15.30 ruang B.302

#Teori Komunikasi (2 SKS)
Selasa, 13.50-16.20 ruang D.301

#Pengantar Statistik (3 SKS)
Rabu, 08.30-10.30 ruang D.301

#Psikologi Sosial (2 SKS)
Kamis, 08.00-09.40 ruang D.301

#Asas-Asas Manajemen (2 SKS)
Kamis, 09.40-11.20 ruang D.301

Semester 3 akan dimulai pada hari Senin, tanggal 31 Agustus 2009, ahhh, pengen banget cepet-cepet masuk Kuliah dan memperbaiki kekurangan yang banyak gwe lakuin tahun pertama. Semoga di tahun kedua ini Perkuliahan gwe semakin baik, AMIEN AMIEN AMIEN.

27 August 2009

HERMES!


saya dan teman-teman saya sedang membuat cerita keroyokan tentang Sejarah Hermes -please, bukan merk Tas Manohara, LOL- yang bersetting di Cafe yang memilki Patung Hermes didalamnya. Kalo sedang punya waktu luang dan berkenan membaca, bisa diliat di bagian Friends dan ada Link menuju cerita keroyokan tersebut, nama Blog nya The Hermes Genk, feel free untuk baca dan komentar. x)

Nb : Untuk yang gak tahu Hermes -karena sudah terlanjur mengenalnya sebagai merk Tas-, ini ada gambar wujud salah satu Dewa Yunani tersebut. Patung Hermes bisa ditemui di Jembatan Harmoni dan Museum Fatahillah

#10 Chendrawati : Jam


Tol TB. Simatupang, 11.57 AM, 08 Agustus 2009

Aku memacu Terano hitam Mas Carlo ke arah Senayan, sekarang aku hanya sendiri, Anjas minta diturunkan diperempatan yang menguhubungkan daerah Tanjung Barat dan Pasar Minggu, dan ini membuatku harus keluar masuk Tol TB. Simatupang.

Gwe benci Anjas, ahhh, curang dia, giliran mau ketemu Mas Carlo aja gak mau nemenin.

Satu setengah jam yang lalu

“GWE GAK MAU TAUK, LOE ANTERIN TUH MOBIL SEKARANG KE PUSDIKLAT !”

“Kenapa gak make mobil Mbak Sydney aja sih Mas ? Dia gak kemana-mana kan siang ini ?”, aku benar-benar malas bila harus berurusan dengan Kakakku yang sangat tempremental ini.

“MENURUT LOE ? GWE MAU MAKE MOBIL WARNA PINK ?”

“Ya elah, make pink gak menurunkan ke macho an loe kok Mas !”, aku kembali memeloti Anjas setelah dia mengucapkan kalimat itu.

“HEH, ANAK PAK BURHAN, KALO KETEMU GWE BANTING LOE !”

Anjas sekarang diam, mungkin dia baru mengingat betapa tinggi dan besarnnya postur tubuh Mas Carlo, pemegang sabuk hitam Karate yang sudah diraihnya bahkan sewaktu SMP.

“Ya udah, gwe anterin ke Pusdiklat !”

“CEPETAN !”

Dan percekapan itu pun diputuskan oleh Mas Carlo tanpa menunggu jawaban dariku.

“GWE-GAK-MAU-IKUT, turunin gwe di Tanjung Barat, atau enggak gwe pulang naek Kereta ke Depok !”, kali ini Anjas yang teriak.

Aku hanya mengangguk lemas.

***

Pusdiklat Departemen Luar Negeri, 12.47 PM, 08 Agustus 2009

“Laen kali, bilang gwe dulu kalo mau make mobil !”, Mas Carlo tidak bisa berteriak-teriak sekarang karena kami berdua sedang berada di lobby tempat dia bekerja.

“Yah, gwe kan gak tauk kalo hari ini loe ke Kantor, gwe pikir loe libur !”, jawabku dengan nada yang lebih tinggi dari pada Mas Carlo. “Lagian ngapain sih loe hari Sabtu ke Kantor ?”

“Loe anak Jurusan Ilmu Pemerintahan tapi gak tauk hari ini ada perayaan apa Dek ?”, Mas Carlo menggelengkan kepalanya setelah mengucapkan kalimat itu.

Aku mencoba mengingat apa yang aku lewatkan hari ini, tapi selagi berpikir aku melihat jelas sebuah pigura yang berisi seorang laki-laki diantara jajaran foto-foto Mantan Menteri Luar Negeri.

Itu ? Itu kan ? ITU ALI ALATAS !

Aku berdiri seketika dan berjalan kearah foto Ali Alatas yang berada disalah satu dinding lobby Pusdiklat Deplu, gerakan mendadakku membuat Mas Carlo terkejut, dan mengikutiku.

“Kenapa sama Ali Alatas ?’, tanya Mas Carlo.

Oh Tuhan, Ayah Chendrawati pasti seorang Diplomat, dan Kakek Ali yang baru saja diceritakan oleh Bu Lena pasti Ali Alatas. Ya, sekarang gwe ngerti kenapa Chendrawati bisa jenius.

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Mas Carlo yang menatapku dengan wajah keheranan.

“Kenapa sih loe Dek ?”

Mas Carlo mungkin adalah kakakku yang paling tempremenal, tapi dia lah pilihan pertamaku bila aku ingin bercerita dan melakukan suatu hal, dari mulai Midnight bareng –dan kadang menjadi obat nyamuk karena dia tanpa sepengetahuanku mengajak kekasihnya- hingga berkelahi. Lagipula, dengan Chendrawati yang menyukai Sejarah, Geografi, dan Bahasa Inggris, Mas Carlo adalah orang yang tepat untuk berbagi masalah ini.

Akhirnya aku menceritakan tentang pencarian Chendrawati kepadanya, tidak perlu waktu yang lama karena ternyata cerita pencarianku begitu singkat, hanya dari satu clue ke clue yang lainnya.

“Gila, gak nyangka si Chendrawati sepinter itu !”

Aku hanya mengangguk, dan memperhatikan seorang bule yang berjalan kearah kami berdua. Sangat tinggi, bahkan Mas Carlo yang sudah tinggi menjulang dengan 181 centimeter nya kalah.

“Hey Carlo, can we talk about our last problem ?”, si bule menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Mas Carlo.

Mas Carlo berdiri dan melihat catatan yang diberikan bule itu kepadanya, “Btw, Peter, this is my brother, he studied dutch literatute but only one year !”, ucapnya sambil meletakkan tangannya dibahuku.

Aku langsung memelototi Mas Carlo.

“Oh, Dag, Mijn naam is Peter, hoe gaat het met U ?”, bule bernama Peter itu mengulurkan tangannya kepadaku, aku berdiri kemudian meraih tangannya.

“Jek, Het gaat goed met mij, en U ?”

“Prima !”

“#$^^$% #@^%*^%^& $^%#(* ^%^$*^ $# $@%, Jek ?”

HAH ? HAH ? HAH ? Ini bule Belanda ngomong apaan ? Kayak kumur-kumur.

“Pardon Meneer, Ik snap U niet, Ik spreek een beetje Nederlands !”, jawabku dengan wajah super tolol yang bisa kubuat.

“Hahahaha, that’s a good answer Jek !”, bule itu tertawa dengan puas dan Mas Carlo dibuat bingung dengan percakapan kami yang menggunakan Bahasa Kompeni itu. Aku juga jadi ikut tertawa saat bule itu mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Ya udah, gwe cabut deh Mas !”

“Eh, cabut kemana ?”, tanya Mas Carlo, kemudian dia berbicara untuk meminta waktu sebentar untuk berbicara kepadaku kepada Peter.

“Plaza Senayan atau Senayan City, G.I JOE udah tayang nih !”, jawabku sambil mengeluarkan handphone untuk memeriksa jadwal pemutaran film di dua Mall itu.

“EH, gwe ikut, gwe juga mau nonton itu, tapi gwe masih ada kerjaan Dek !”

“Ya udah, gwe tungguin, gwe juga mau makan siang dulu, terus paling jamuran di Toko Buku nungguin loe, loe jam berapa selesai nya ? Biar gwe bisa langsung beli tiket nya !”, ucapku sambil melihat jam yang kugunakan ditangan kanan.

“Hmm, gwe selesai saat jarum jam berhenti tepat di angka yang menjadi keanehan di jam terbesar di Indonesia, Dek !”, Mas Carlo tersenyum dan meninggalkanku berjalan dengan Peter.

Sialan, mentang-mentang gwe ceritain tentang Chendrawati, dia ikut-ikutan maen teka-teki. Tapi jam berapa saat jarum jam berhenti tepat di angka yang menjadi keanehan di jam terbesar di Indonesia ? Awas loh Mas, gwe bales nanti.

#9 Chendrawati : Kakek Ali


Tol Ciawi, 08.12 AM, 08 Agustus 2009

Hari ini jadwalku dengan Anjas sama, yaitu kerumah Bu Lena, guru kami sewaktu TK. Dan sekarang beliau berdomisili di Kota Hujan, Bogor. Aku dan Anjas sudah merencakan untuk pergi pagi ke Bogor kemarin saat kami bertemu di Au Lait, mungkin bila sempat akan main-main ke Kebun Raya Bogor, karena Anjas dengan bangga memproklamirkan bahwa dia belum pernah menginjakan kakinya disana, sedangkan aku juga sudah lupa bagaimana bentuk Kebun Raya Bogor karena diajak Ayah kesana sewaktu masih kecil.

“Gwe kan udah bilang berangkatnya abis Subuh aja !”, teriakku sambil membanting stir mobil Kakakku yang pertama, hari ini mobil Anjas akan digunakan untuk mengantar Ibu nya ke kondangan oleh supirnya.

“Nyet, emangnya loe udah bangun jam segitu ?”, Anjas menurunkan jendela dan mulai merokok.

“Oke, gwe bisa dibunuh sama Kakak gwe karena mobilnya bau asep rokok !”, nada suaraku masih tinggi, melihat Anjas mulai menghidupkan Marlboro nya.

“Nyantai Jek, nanti kita beli parfum, terus tinggal semprotin, Mas Carlo gak akan tauk kok !”

“Kalo gwe bilang, gwe gak minta ijin make mobil ini, loe mau ikutan dibunuh kan ?”

Anjas bahkan tidak jadi menghidupkan rokoknya karena sebelumnya telah mati diterpa angin. “LOE GAK BILANG MAS CARLO ?”

Aku menggeleng, tadi pagi aku memang meminta izin kepada Ibu untuk menggunakan mobil Kakakku yang pertama, Mas Carlo, untuk perjalanan hari ini ke Bogor. Ibu bilang tidak apa-apa, tapi aku sangat yakin Mas Carlo tidak mengizinkannya.

“Dia masih tidur pas gwe pergi !”

“Wah, parah loe Jek, parah, waktu gwe maen kerumah loe pas SD aja, gwe lebih takut Mas Carlo dari pada Bokap loe !”, jelas Anjas, kali ini Marlboro nya sukses menyala, diujungnya sudah terlihat bara.

Loe takut sama dia, tapi tetep ngidupin rokok. Gimana sih loe Njas ?

“Ya udahlah, urusan nanti !”, kataku akhirnya sambil menyalakan Sampoerna Mild juga, Anjas hanya tersenyum melihat tindakanku.

Liburan benar-benar membuat kami lupa akan hari, hari ini Sabtu, dan semua orang Jakarta menggunakan Jalan Tol ini untuk menuju Puncak, arrgghhh, MACET!

***

Bogor, 10.00 AM, 08 Agustus 2009

“Ayo silakan, Jek Anjas, dimakan kue nya !”, Bu Lena menawarkan kami berdua kue-kue kecil yang memang sudah ada di meja saat kami masuk kedalam rumah Bu Lena. “Maaf loh, Ibu sempat tidak mengenali kalian, sudah lama sekali kan waktu kalian main-main di Ayunan dan Perosotan ?”

Aku dan Anjas sama-sama tersenyum, menjaga tingkah laku kami, kemarin-kemarin mungkin kami bisa bertindak sana-sini dan berbicara semau kami, karena yang kami kunjungi adalah teman-teman kami, dan sekarang adalah seorang Guru yang kami datangi, seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.

“Gak apa-apa Bu, saya kan tahu yang diinget seorang Guru adalah murid yang paling pintar dan murid yang paling bandel, untung saya datengnya sama murid paling bandel sekarang, jadi nya Ibu ingat !”

Aku menyikut Anjas, Bu Lena hanya tertawa melihat tingkah laku kami. Saat kami menginjakan kaki di rumah Bu Lena, beliau memang tidak mengenali kami sama sekali bahkan setelah kami menyebutkan nama TK tempat dia mengajar dulu, tapi Anjas –yang sepertinya punya dendam pribadi kepadaku- mengingatkan kejadian ‘pemukulan rambutan berwarna hitam’ kepada Bu Lena, dan saat itu juga beliau ingat kepadaku.

“Jadi, kapan mau diadakan reuni nya ?”

“Kita belum tahu Bu, masih dalam tahap pencarian teman-teman yang lain juga soalnya !”, jelasku sambil mengambil cangkir yang berisi teh manis yang telah disediakan Bu Lena.

“Ngomong-ngomong Ibu ingat dengan Chendrawati ?”, tiba-tiba Anjas membuka topik tentang Chendrawati. Entah karena tidak ada topik yang bisa dia keluarkan lagi atau memang dia penasaran sekarang.

“Oh, Chendrawati itu angkatan kalian ?”

Aku dan Anjas langsung mengangguk dengan cepat.

“Seperti yang kamu bilang Njas, seorang Guru pasti akan mengingat muridnya yang paling pintar .. “, Bu Lena menghentikan kalimatnya. “Dan yang paling nakal !”, kali ini beliau melirik kearahku sambil tertawa. “Tentu Ibu ingat Chendrawati, bahkan dia adalah murid Ibu yang paling Ibu ingat !”

Mungkin bukan hanya aku yang menahan nafas, tapi Anjas juga. Setiap nama itu disebut entah kenapa atmosfir disekeliling kami berubah, penasaran adalah kata yang tepat untuk atmosfir ini.

“Ayah nya Chendrawati kerja nya apa sih Bu ?”, tanyaku berani.

“Ibu kurang tahu Jek, tapi Chendrawati pernah bercerita tentang apa yang dilakukan Ayah nya !”, Bu Lena memandang kami berdua dengan keheranan karena wajah kami yang sangat ingin tahu tentang cerita ini. Bu Lena menerawang jauh sekarang, seakan menocoba mengingat kejadian yang sudah lama terjadi.

***

TK Harapan Bangsa, Januari 1992

“Chendrawati kok belum pulang ?”, Aku menghampiri gadis kecil yang selalu diikat satu rambutnya.

“Belum Bu, Ayah belum jemput aku !”, jawab Chendrawati, kemudian aku mengajaknya untuk masuk kedalam Kantor Guru, baru jam setengah sebelas, tapi langit tidak menunjukkan tanda-tanda cerah, bulan Januari memang masih diselimuti musim hujan.

“Memangnya Chendrawati tidak bisa pulang sendiri ?”, kataku akhirnya, setelah dia duduk manis di kursi yang menghadapku sekarang, kami berdua hanya dpisahkan meja kerjaku yang penuh dengan berkas-berkas.

“Bisa, tapi tadi Ayah sudah janji untuk menjemputku, jadinya aku harus menunggu !”

Aku hanya tersenyum mendengarkan celotehan anak berumur empat tahun yang sangat pintar ini, dia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya pada umurnya yang sekarang. Anak yang pasti akan tumbuh menjadi gadis pintar.

“Oh iya, Ibu penasaran, kenapa kamu sudah bisa sedikit berbahasa Inggirs Chend ?”

“Aku dipaksa sama Kakek Ali, Bu !”

“Kakek Ali ?”

“Iya, teman sekaligus atasan Ayah, setiap aku berbicara dengan dia, dia bilang ‘C, english please !’, dan aku jadi harus belajar Bahasa Inggris bila berbicara dengan dia. Dia memiliki cerita pertualangan yang sangat menyenangkan Bu, tapi bagaimana bisa aku mengerti cerita nya bila dia menggunakan Bahasa Inggris ? Makanya aku berlatih terus dengan Ayah, agar mengerti cerita petualangannya !”, Chendrawati menjelaskannya dengan sangat mudah, membuatku terkejut dengan kemampuannya berbicara sepanjang itu.

“Oh, jadi Kakek Ali itu teman Ayah kamu ?”

Chendrawati mengangguk, “Sehabis dari Luar Negeri Kakek Ali selalu membawakan oleh-oleh buku Bu, aku sayang Kakek Ali, Ayah mau menjadi seperti Kakek Ali, dan aku juga !”

Aku hanya mengangguk, berdiri kemudian merangkul Chendrawati, seorang pria yang kukenal sebagai Ayahnya sudah berdiri didepan pintu Kantor ini dengan membawa payung berwana hitam.

“Ayo, Chendrawati !”

Chendrawati langsung berlari menuju Ayahnya, “Terima kasih banyak Bu sudah menemani Chendrawati !”

“Tidak apa-apa Pak, saya selalu suka berbicara dengan Chendrawati, dia anak yang luar biasa !”

“Ya, saya tahu, dan saya beruntung akan itu !”, ucap pria itu sambil menggendong Chendrawati.

“Ayah, ceritain aku tentang Irian Jaya lagi, pakai Bahasa Inggris yah, kalau ada yang aku tidak tahu artinya nya, aku akan mencatat dan mencari nya di Kamus !”

“Hahahaha, baiklah, baiklah !”, pria itu membuka payung hitamnya karena diluar sudah mulai gerimis. “Kami permisi Bu !”

Aku mengangguk sambil tersenyum, memperhatikan seorang Ayah yang menggendong gadis kecilnya berpayungan keluar dari Taman Kanak-kanak tempatku bekerja.

***

“Kakek Ali, Bu ?”, Anjas mengeluarkan bungkus Marlboronya sekarang, sepertinya dia tidak peduli lagi sekarang dia sedang berada dirumah Guru, bukan temannya.

“Ya, Kakek Ali !”, jawab Bu Lena.

Drrt.. Drrt.. Drrt..

MAMPUS gwe !

“Njas, Mas Carlo !”, ucapku dengan nada bergetar.

Anjas juga ikut mematung, Bu Lena juga bingung karena tidak mengerti arah pembicaraan kami.

Aku mendiamkan telepon genggamku, “Bu, maaf kami pamit yah, sudah dihubungi orang rumah !”

“Oh, ya ya, terima kasih loh sudah mengabari Ibu tentang reuni , selanjutnya tolong dikabar-kabari lagi yah !”, kata Bu Lena akhirnya sambil berdiri dan menyalami kami.

“Iya, Bu, pasti, kami permisi Bu !”

Akhirnya aku dan Anjas segera lari, masuk kedalam mobil Terano hitam milik Mas Carlo. “Nyet, gimana nih ?”, teriakku kepada Anjas sambil memasang sabuk pengaman. Getar pada telepon genggamku sudah menjadi one missed call.

“Ihh, masalah loe !”, jawab Anjas sambil memasang sabuk pengamannya juga.

Drrt.. Drrt.. Drrt..

AHH, MATI NIH GWE !

“Udah, angkat aja, bilang kita udah jalan pulang !”

Aku agak bingung apa yang harus aku katakan kepada Kakakku tentang ‘pencurian’ mobilnya dipagi hari.

“Ha.. Lo !”

Aku langsung menjauhkan telepon genggamku dari telinga, diseberang sana Mas Carlo sudah teriak-teriak tidak karuan. Aku loudspeker, supaya Anjas juga mendengarnya.

“.. GWE BUTUH MOBIL ITU SEKARANG !”

“Maaf Mas, tadi gwe ngeliat mobil loe yang paling gampang dikeluarin dari garasi, jadi nya gwe pake !”

“ALESAN, CEPET BALIK !”

“Uhuk, Uhukkk !”, Anjas terbatuk karena menahan nafasnya, padahal dia sudah menarik asap Marlboro nya tadi.

“SIAPA TUH ?”

“Anjas Mas !”, jawabku dengan nada suara sangat rendah sambil memelototi Anjas.

“ANJAS ANAK PAK BURHAN ?”

“Ya siapa lagi temen gwe yang namanya Anjas ?”

“LOE BERDUA DARI KECIL HOBI BANGET NGEGERECOKIN BARANG-BARANG GWE, DULU REPLIKA ROBOT POWER RANGERS GWE DIANCURIN SAMA LOE KAN NJAS ?”

“Ya Allah Mas, masih aja dendam tentang masalah itu !”, jawab Anjas kemudian tertawa, mengingat kejadian waktu aku dan dia main-main ke kamar Mas Carlo sepulang dari Sekolah saat SD, dan tanpa sengaja robot-robotan Power Rangers itu jatuh saat Anjas mengambilnya dari atas meja pajangan kamar Mas Carlo.

“Ya udah, cepetan balik, setengah jam lagi gwe harus cabut ke Pusdiklat !”

“Emm, setengah jam Mas ?”, kataku ragu, Bogor dan Depok sepertinya tidak bisa dicapai menggunakan mobil dalam waktu setengah jam apalagi sekarang hari Sabtu, banyak warga Bogor yang menuju Jakarta, kecuali kalau mobil nya dimasukkan ke Kereta Express, itu pun aku juga tidak yakin bisa ditempuh dalam waktu setengah jam.

“Iya, loe dimana sih emangnya ?”

“Emm, Bogor !”

“APAAAA ? BOGOOOR ?”

Yah, beneran mati deh nih gwe !